Jerit Tertahan di Pinggir Lampu Merah

Ujang terduduk di pinggir jalan raya. Ramai lalu lalang kendaraan tak digubrisnya kali ini. Tak peduli sedan berharga miliaran maupun motor butut. Semua itu tidak lebih dari sekedar aliran uang receh yang akan mengisi kantongnya yang kosong. Melayang pikirannya jauh dari perempatan ramai itu..

Belasan tahun sudah Ujang hidup. Sekian tahun juga dia mengenal jalanan. Jalanan sebagai guru. Tanpa kurikulum atau buku paket, jalanan hadir dengan cemeti. Hidup atau mati. Meski itu dengan harus menjaga lampu merah di terik siang maupun saat dinginnya hujan di subuh hari. Meski itu harus berlari dari kejaran petugas Satpol PP yang merazia setiap waktu.

Ujang lahir dari keluarga terpinggirkan. Dia meluncur dari rahim ibunya tanpa euforia. Dia lahir sebagai seonggok daging, yang bahkan sebelum bisa menyapa ibunya, sudah bisa menghasilkan uang. Dekil dan kotor, Ujang dan anak-anak jalanan memang seakan momok bagi lampu-lampu taman kota.

Itu belasan tahun lalu.. Ayahnya yang kuli bangunan itu, kini telah pergi entah kemana. Meninggalkan Ujang dan kedua adik-adiknya yang mesti berjuang sendiri semenjak wafatnya sang ibu untuk melahirkan si bungsu. Tapi dia rela, biarlah dia mengemis demi adik-adiknya bisa makan dan sekolah..

Dalam hatinya tertahan jeritan.. “Apa pula mau pemerintah ini?! Melarang memberi koin kepada anak jalanan?!” Bimbang dia membayangkan apa yang dia mesti lakukan kedepan. Tak pernah terfikir baginya untuk pergi dari jalanan. Ibu dulu mengemis, teman-temannya juga mengemis, begitu pula dengan seluruh tetangga-tetangganya di kampung pengemis. Baginya, cita-cita yang terbaik untuknya ya mengemis, tak ada lain..

Satu hal yang terus menerus muncul di pikirannya adalah pertanyaan..”Apakah esok adik-adikku dapat makan…?”

 

Dalam batin yang terkoyak dia berdo’a..

“Tuhan..

Terangkanlah jalan adik-adik hamba..

Kuatkanlah hamba, jika memang inilah jalan yang Engkau katakan lurus itu..

Kabulkanlah, Tuhan..”

 

“Fiuhhh..” Ujang mendesah pelan sembari kembali mengais koin.. Sakit pada perutnya tak dia hiraukan.. “Orang miskin tidak boleh sakit” bisiknya lirih pada diri sendiri..

Categories: Peristiwa Disekitar Kita | Tags: , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: