Rumah Belajar Kereta Mimpi – Merajut Mimpi di Tepi Rel Kereta

Terima Kasih, terutama untuk Amelia Sakinah dan Mbak Rahma Ainun Nisa, yang sudah mengenalkan penulis dengan anak-anak yang penuh semangat ini.

Anak-anak Rumah Belajar Kereta Mimpi

Anak-anak Rumah Belajar Kereta Mimpi

Penulis merupakan orang yang terbilang sangat hijau dalam masalah Rumah Belajar ini. Baru dua minggu ini penulis mengikuti aktivitas mengajar di Rumah Belajar Kereta Mimpi di Ciroyom ini. Tulisan ini ada terutama untuk memudahkan penulis memberikan gambaran tentang aktivitas Rumah Belajar Kereta Mimpi kepada yang membutuhkannya. Namun, ini hanya merupakan kesimpulan pribadi yang penulis ambil dari rangkaian aktivitas yang telah penulis jalani dalam dua minggu ini. Jadi masih ada kemungkinan kesalahan di dalam isi tulisan ini. Meski begitu, penulis mencoba seobyektif mungkin menjadikan tulisan ini menggambarkan keadaan sebenarnya.

Rumah Belajar Kereta Mimpi adalah rumah belajar kedua yang dibentuk oleh Yayasan Sahaja (Sahabat Anak Jalanan). Rumah belajar pertama mempunyai nama yang sama seperti yayasannya, Sahaja. Rumah Belajar Sahaja sudah berumur 5 tahun sedangkan Rumah Belajar Kereta Mimpi masih menjalani tahun pertamanya.

Seremoni Ulang Tahun ke-5 Rumah Belajar Sahaja

Seremoni Ulang Tahun ke-5 Rumah Belajar Sahaja

Aktivitas Rumah Belajar Sahaja terfokus pada anak-anak jalanan di sekitar Pasar Ciroyom. Anak-anak ini tidak punya rumah ataupun orang tua yang mengurus mereka. Mereka tidak mengenyam pendidikan formal (sekolah). Masalah yang paling susah adalah kebiasaan mereka “ngelem”, yaitu menghirup Lem Aibon kalengan. Dalam sehari bisa 6 kaleng mereka habiskan. Namun, ini hanyalah dampak, bukan akar dari masalah mereka. Akar masalah mereka adalah ketidak adaan sosok dari orang tua. Kasih sayang, arahan, bimbingan, teladan, teguran, dan masih banyak lagi hal-hal yang tercermin dari peran orang tua yang mereka tidak dapatkan. Karena “sakit” di batin anak-anak itu, aktivitas “ngelem” ini yang menjadi jalan pintas mereka menuju kebahagiaan sementara.

Anak-anak jalanan (yang kanan "ngelem")

Anak-anak jalanan (yang kanan “ngelem”)

Dalam Keberjalanannya, Rumah Belajar Sahaja didukung oleh banyak relawan dari banyak pihak. Beberapa anak jalanan pun berhasil dimasukkan ke pendidikan yang sesuai minat mereka. Namun ternyata, jumlah anak jalanan yang ada tetap, tidak berkurang. Berarti, ada anak-anak yang dulunya sekolah namun menjadi putus sekolah dan menjadi anak jalanan. Usut punya usut, anak-anak jalanan yang baru bergabung itu adalah anak-anak yang tinggal di sekitar rel kereta api dekat Stasiun Ciroyom. Inilah yang mendasari berdirinya rumah belajar kedua dari Yayasan Sahaja, yaitu Rumah Belajar Kereta Mimpi.

Rel Kereta Ciroyom

Rel Kereta Ciroyom

Aktivitas Rumah Belajar Kereta Mimpi terfokus di sekitaran Stasiun Ciroyom, tepatnya di sebelah Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS) Pasar Ciroyom. Disana terdapat 5 RT dalam 1 RW. Namun, Rumah Belajar (RumBel) Kereta Mimpi ini hanya mengakomodir 1 RT saja, yakni RT 04. Hal ini didasarkan pada kondisi RT 04 yang paling memprihatinkan dibanding 4 RT yang lain. Lebih lagi, di wilayah RT 04, terdapat sebuah musholla kecil yang diperbolehkan warga untuk digunakan sebagai tempat belajar bagi anak-anak. Untuk informasi tambahan, sebenarnya, tanah yang terletak di sekitaran rel kereta api ini adalah milik P.T. KAI. Karenanya, cepat atau lambat, rumah-rumah di wilayah 5 RT ini akan digusur untuk dijadikan ruang terbuka hijau atau alih fungsi lahan lainnya.

Lokasi Aktivitas Rumah Belajar Kereta Mimpi

Lokasi Aktivitas Rumah Belajar Kereta Mimpi

Tampak Atas Lokasi

Tampak Atas Lokasi

Sebagian besar masyarakat di daerah Rel Ciroyom ini bermata-pencaharian sebagai buruh cuci, tukang gorengan, maupun tukang rongsokan. Penghasilan yang mereka dapatkan hanya cukup untuk makan sehari-hari saja. Untuk tempat tinggal, satu rumah yang berukurang sangat kecil dan kebanyakan masih berdinding kayu ditinggali 2-3 keluarga. Untuk Status keluarga seperti Akta Kelahiran dan Surat Pernikahan mereka banyak yang tidak memilikinya. Bahkan, saking tidak jelasnya status pernikahannya, ada ibu yang sudah menikah 5 kali dan tanpa surat nikah. Hal ini cukup menyulitkan proses pendaftaran sekolah anaknya.

Rumah-rumah masyarakat sekitar Rel Ciroyom

Rumah-rumah masyarakat sekitar Rel Ciroyom

Rumah-rumah masyarakat Rel Ciroyom

Rumah-rumah masyarakat sekitar Rel Ciroyom

Anak-anak masyarakat Rel Ciroyom sendiri sudah sekitar 40 orang yang ikut dalam aktivitas belajar bersama di RumBel Kereta Mimpi ini. Mayoritas dari mereka masih ada di tingkat Sekolah Dasar (SD) dengan kelas yang bervariasi dari kelas satu sampai kelas enam. Ada sekitar 5 orang yang sudah menginjak bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), semuanya masih kelas 1. Maskipun sebagian besar sudah ada di tingkat sekolah dasar, mereka masih banyak yang masih belum mahir dalam membaca, menulis, dan menghitung (Calistung). Hal ini dapat dimaklumi, karena sebagian besar orangtua mereka tidak mampu mengajari materi tersebut, entah karena tidak sempat ataupun tidak bisa. Tidak hanya itu saja, seperti yang sudah dibilang diatas, orang tua mereka sebagian besar berpenghasilan sangat kecil sehingga untuk menyekolahkan anaknya, mereka tidak sanggup. Memang, biaya SPP sekolah ditanggung oleh Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dari penerintah, namun masih ada biaya-biaya lain semacam biaya infaq yang nantinya diakumulasikan per tahun menjadi program karyawisata, biaya buku, biaya seragam, dan biaya-biaya yang lain. Karena ketidakmampuan orang tua inilah, sebagian besar anak-anak tidak mempunyai buku pelajaran satupun. Untunglah, dengan bantuan dari Rumah Belajar ini, anak-anak yang kelas 6 kemarin bisa lulus UNAS, meskipun mayoritas dengan nilai total belasan dari 3 mata pelajaran.

Belajar Bersama di Rumah Belajar Kereta Mimpi

Belajar Bersama di Rumah Belajar Kereta Mimpi

Belajar Bersama di Rumah Belajar Kereta Mimpi

Belajar Bersama di Rumah Belajar Kereta Mimpi

Sempat dalam beberapa kali kesempatan, beberapa anak turun ke jalan atau pasar untuk mengemis. Hal ini dilakukan karena kurangnya uang mereka, baik untuk jajan maupun untuk sekolah. 3 minggu lalu misalnya, karena orang tua mereka tidak dapat membiayai pendaftaran SMPnya, anak-anak bekerja membungkus otak-otak di pasar. Bahkan, sampai sekarang, masih ada tiga anak yang masih tidak mau lanjut sekolah karena minder dengan teman-temannya. Ini yang sampai hari ini kami pusingkan dan cari solusinya. Karena, hampir semua anak di daerah ini sangat pemalu. Sempat ada anak yang tidak mau lanjut sekolah karena sepatunya jelek.

Salah satu anak daerah Rel Ciroyom

Salah satu anak daerah Rel Ciroyom

Hal yang membuat penulis tergerak untuk aktif di Rumah Belajar Kereta Mimpi ini adalah karena sedikitnya jumlah relawan tetap yang berpartisipasi di Rumah Belajar ini. Sampai saat ini saja, penulis baru bertemu satu-satunya relawan di rumah belajar ini, ya pendirinya sediri. Kabarnya ada dua orang yang aktif, namun tetap saja, bagaimana caranya dua orang bisa mengajar 40 anak kecil yang bervariasi tingkat kepahaman dan pemahamannya? Keterbatasan orang inilah hal utama yang menyebabkan kurang efektifnya keberjalanan Rumah Belajar ini. Hal ini juga yang menyebabkan keterbatasan waktu belajar bersama, yakni hanya sekali dalam sepekan yang ada di hari minggu jam 2 siang sampai jam 5 sore.

Mbak Ainun, pendiri Rumah Belajar Kereta Mimpi

Mbak Ainun, pendiri Rumah Belajar Kereta Mimpi

Hal lain yang membuat penulis sangat tergerak adalah keterbatasan dana. Dana yang digunakan untuk mengelola rumah belajar ini adalah dana pribadi dari relawan tetap yang kesehariannya bekerja. Jika dirasa tidak mencukupi, relawan ini baru menghubungi kerabat-kerabat atau teman-teman dekatnya.

Anak-anak RumBel Kereta Mimpi

Anak-anak RumBel Kereta Mimpi

 

Ada satu cerita unik. Pada saat awal Rumah belajar Kereta Mimpi ini ada, mayoritas cita-cita dari anak-anak Rel Ciroyom ini adalah menjadi Tukang Rongsokan, Tukang Gorengan, ataupun Buruh Cuci, seperti orang tua mereka. Namun, setelah beberapa kali mereka mengikuti proses belajar di RumBel Kereta Mimpi ini, cita-cita mereka lama-lama berubah. Ada yang ingin menjadi guru, dokter anak, ada yang ingin jadi gitaris band, ada yang ingin jadi polisi, dan masih banyak lagi.

Belajar di RumBel Kereta Mimpi

Belajar di RumBel Kereta Mimpi

Anak-anak RumBel Kereta Mimpi

Anak-anak RumBel Kereta Mimpi

Ya, mimpi untuk membuat anak-anak ini menjadi insan terdidik yang berbakti itu masih ada. Selama masih ada manusia-manusia yang saling membantu dalam kebenaran dan kesabaran, mimpi-mimpi dari tepi rel kereta ini masih mempunyai harapan…

Categories: Peristiwa Disekitar Kita | Tags: , , , , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: