Benarkah Manusia Berasal dari Monyet?

Credits saya terutama untuk Pak Yasraf Amir Piliang, Karena beliau telah menceritakan gagasan yang menurut saya, sangat luar biasa.

Charles Darwin (12 Februari 1809 – 19 April 1882), adalah seorang naturalis berkebangsaan Inggris. Pencetus “Teori Evolusi”berdasarkan teori “Seleksi Alam” yang beliau kembangkan. Mr Darwin menulis ide tentang evolusi di buku berjudul “On the Origin of Species by Means of Natural Selection, or The Preservation of Favoured Races in the Struggle for Life” atau biasanya disingkat menjadi “The Origin of Species” (Asal-usul Spesies) yang diterbitkan pada tahun 1859. Buku ini memperkenalkan teori ilmiah bahwa makhluk hidup dalam waktu yang lebih dari ribuan tahun menurunkan genetik yang tidak selalu sama (proses mutasi), kemudian dari keberagaman itu beberapa jenis yang berbeda akan punah karena tidak dapat beradaptasi dengan alam sekitar (seleksi alam), inilah yang dikenal dengan Teori Evolusi.

Dalam teori evolusi dijelaskan juga bahwa manusia memiliki nenek moyang yang sama dengan monyet. Kontan, isi buku ini menimbulkan kontroversi, karena menentang teori penciptaan menurut kepercayaan agama yang menyatakan bahwa, makhluk hidup termasuk manusia diciptakan secara tiba-tiba dalam bentuk yang sempurna dan tidak berubah wujudnya sejak awal penciptaan.

Namun, bagaimanapun teori ini memicu kontroversi selama ratusan tahun, entah sampai kapan kedepannyaa, sampai kita berevolusi mungkin? Pro dan kontra akan terus bermunculan akan teori ini. Tetapi, tulisan ini, akan mengupas tuntas bahwa bagaimana Teori Darwin ini tidak hanya keliru, tetapi malah terbalik 180 derajat!

Charles Darwin menyatakan bahwa, manusia adalah keturunan dari hewan yang berevolusi dan selamat dari fenomena berupa solusi alam. Untuk mengupas lebih dalam, ada baiknya kita mengenal dahulu apa itu manusia dan apa saja ciri-ciri dari manusia yang membedakan kita dengan hewan.

Manusia, merupakan makhluk yang sangat spesial yang memiliki ciri-ciri yang tidak dimiliki oleh makhluk lain di dunia ini. Keunikan tersebut terutama ada 4, yakni seni, sains, politik, dan cinta. Keempat unsur yang akan dijelaskan berikutnya ini, merupakan dasar pembeda dari manusia dengan makhluk-makhluk yang lain.

Namun, hal yang menarik adalah, mengapa tidak ada unsur ekonomi?

Unsur ekonomi, bukan termasuk unsur yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Karena unsur ekonomi adalah soal bagaimana memuaskan perut yang dimana itu adalah ciri dari semua makhluk hidup, tidak terkecuali.

Untuk mengenal lebih dekat, mari kita bahas satu per satu, empat ciri dari manusia yang sudah disebutkan diatas.

SENI

Seni adalah suatu perwujudan akan kepekaan. Bagaimana kita memaknai dan merespon hal-hal yang ada di sekitar kita. Bagaimana setiap interaksi dan perilaku, menampilkan pola yang indah. Semua pemaknaan yang sangant tergantung oleh subyek yang mengamati ini, dikemas dalam suatu perwujudan artefak yang dapat kita nikmati bersama, seni. Seni hadir di tengah kehidupan manusia sebagai sarana komunikasi untuk saling mengingatkan akan hal yang terjadi di sekitar kita.

SAINS

Ciri kedua adalah sains. Sains dilengkapi dengan ilmu, akal, cara berfikir, pengukuran, uji coba, dan metode ilmiah. Semua itu ada untuk mendukung bahwa sains adalah senjata utama untuk membuktikan dengan jelas mana yang merupakan hal yang benar maupun salah. Dengan metode ilmiah, kita dapat membuktikan suatu teori, suatu gagasan, menjadi suatu hukum atau suatu kepastian aturan. Idak ada lagi hal-hal yang terbiarkan dalam keraguan atau zona abu-abu. Semua jelas, hitam atau putih. Sains disini berbicara berdasarkan data, berdasarkan kebenaran ilmiah.

POLITIK

Unsur berikutnya adalah politik. Politik disini, berbeda dengan kebanyakan paradugma sekarang, menggambarkan akan keterpercayaan akan pemimpin yang adil untuk membawa tujuan bersama. Semua orang memiliki kebutuhan masing-masing. Semua orang memiliki ego masing-masing dan seringkali bersinggungan satu sama lainnya. Hanya orang yang arif, adil, dan bijaksana lah yang dapat melihat apa tujuan yang dapat dikejar bersama-sama yang bisa memberikan kebutuhan dari masing-masing anggotanya, bukan keinginan. Tidak hanya mengetahui apa tujuan yang akan dikejar bersama-sama, tetapi juga memberitahukan kepada seluruh anggotanya tentang tujuan tersebut, dan yang terpenting, terjun bersama-sama anggotanya mengejar tujuan tersebut dengan keteladanan.

CINTA

Ciri yang terakhir adalah cinta. Sebagian dari kita menganggap cinta adalah hubungan saling mengasihi antar sesama manusia. Entah itu dengan kekasih, dengan keluarga, ataupun dengan siapapun itu. Ketika kita mencintai seseorang, kita yakin akan perhatian, kasih sayang, dan toleransi yang tanpa syarat. Sesimpel ketika seorang ayah mengatakan kepada anaknya “apapun jalan yang kau pilih, nak, kau tetap anakku.”

Namun, untuk ciri manusia yang membedakan dengan makhluk lainnya, cinta disini dalam konteks kepada Sang Pencipta. Kecintaan terhadap Sang Maha Segalanya, kepada kekuatan yang jauh lebih besar dari kita yang mengatur segalanya. Saat dimana kita pasrah, berserah diri, menyerahkan segala usaha yang telah kita lakukan kepada kekuatan yang jauh lebih besar. Keyakinan akan adanya alam, Tuhan, Allah, Keadilan, Karma, dan Apapun itu yang kita yakini akan memberikan perasaan aman kepada kita dalam keadaan tertekan. Itulah cinta yang abadi, cinta yang kekal, cinta kepada Sang Pencipta.

Keempat unsur itu, menjadi citra yang membedakan manusia dari makhluk-makhluk yang lain. Itu semua berlaku jika dan hanya jika, ciri-ciri tersebut kita lakukan sesuai dengan tujuan dan pemaknaan yang seperti dijelaskan tadi.

Namun, bagaimana cerita dari keempat ciri-ciri manusia tersebut sekarang? Mari kita renungkan satu per satu. 

Seni, yang tadinya merupakan perwujudan dari kepekaan terhadap lingkungan di sekitar kita, sekarang sudah mengikuti selera pasar. Semua perwujudan seni seperti tarian, musik, ukiran, pakaian, bahkan program-program di televisi yang dulunya berkualitas pun sudah mulai mengikuti selera pasar (rating). Sudah tidak ada lagi kepekaan yang ditunjukkan oleh kawan-kawan seniman yang berjiwa bebas, atau kalaupun ada, jumlahnya sangant sedikit. Karya mereka pun kurang bertahan lama dan populer.

Mayoritas orang sudah menganggap seni ini hanya sebagai bungkus belaka. Kemasan yang tidak peduli memiliki isi atau tidak, yang penting kemasan tersebut “wah”. Kalangan seniman pun sudah mulai menganggap seni sebagai alat atau profesi. Tentu ujungnya untuk mengejar kepentingan ekonomi. Ya, demi mengenyangkan perut masing-masing kita, seni kini sudah bergeser dari makna akan sensitivitas peristiwa yang ada di sekitar kita menjadi bungkus sesuai selera pasar yang tanpa isi.

Ciri manusia yang kedua adalah sains, yang pada dasarnya ada untuk membuktikan mana yang benar dan mana yang salah. Coba kita tinjau kasus Lumpur Lapindo menjadi contoh. Disana ada 3 deduksi yang masing-masing didukung oleh cara berfikir ilmiah dari 3 pakar berbeda. Satu menyetakan kasus tersebut bencana alam, satu menyatakan kasus tersebut adalah kesalahan manusia, dan yang terakhir menyatakan ini adalah gabungan dari keduanya. Semuanya memiliki analisa dan didukung oleh bukti yang mereka bawakan dan mereka yakini hal tersebut benar. 

Lantas, adakah kebenaran yang bias menjadi tiga? Mungkin itu merupakan perbedaan sudut pandang dari masing-masing pakar. Namun, penulis rasa, pakar-pakar tersebut sudah terlalu ahli untuk memiliki suatu sudut pandang yang parsial. Ini berati menyisakan pilihan bahwa ada analisa yang didasari suatu kepentingan dalam pembuatannya. Ya, bukti-bukti ilmiah yang “dipesan” supaya hasilnya mengikuti kepentingan suatu kelompok bukan sekali ini saja terjadi. Sudah banyak kasus-kasus lain yang serupa dengan Kasus Lapindo ini. Lagi-lagi, pesanan ini bisa terjadi karena pakar-pakar sains di dunia ini sudah mementingkan “perut” mereka, ekonomi.

Politik? Bahkan saat ini di masyarakat, paradigma dari kata politik ini sudah sangat buruknya sampai-sampai mau memulai membahasnya saja sudah engap duluan. Bagaimana sebuah dewan perwakilan rakyat sudah menjadi sarang dari bagi bagi “jatah” dari para penguasa-penguasa negeri. Bagaimana keputusan-keputusan politik baik dalam negeri maupun internasional sudah menjadi “pesanan” bagi kepentingan pihak-pihak tertentu.

Bahkan, unjuk rasa yang merupakan jalan terakhir masyarakat untuk mengekspresikan “rasa” yang mereka dapatkan sudah berubah menjadi kendaraan politik. Lebih lagi, perang, yang sudah jelas-jelas melanggar prinsip kemanusiaan bisa menjadi legal dengan “dalih” politik dari negeri yang merasa berkuasa. Ya, sayangnya, ciri manusia ketiga ini juga telah mengarah kepada kepentingan ekonomi.

Ciri terakhir yang menjadi pembeda antara kita, manusia, dengan hewan, adalah cinta. Dimulai dari cinta kepada sesama manusia. Ternyata “cinta” terhadap manusia pun bisa menjadi acara televisi yang mengikuti keinginan pasar semacam “termehek-m*hek”, hipnotis-hipnotis, take me *ut, dan masih banyak lagi.

Tapi kita bersama dari tadi sudah tahu bahwa bukan ini yang dimaksud dalam pengertian cinta yang merupakan ciri pembeda dari manusia. Ya, kita akan membahas keadaan cinta kita terhadap Sang Pencipta. Naah, jika kita amati akhir-akhir ini kira-kira, sudah berapa banyak proses keagamaan yang dikomersilkan? Tidak terkecuali agama manapun, proses-proses ritual keagaamaan banyak yang beralih menjadi sebuah profesi yang sangat menguntungkan. Kembali lagi, ekonomi.

Bahkan, tidak jarang kita temui, agama menjadi suatu kendaraan politik untuk menghimpun orang demi meraih kekuasaan. Ya, seperti yang kita sudah bahas diatas, politik pun berujung ke ekonomi.

Jadi tampaknya, habis sudah ciri-ciri unik dari manusia yang membedakan kita dengan makhluk makhluk lain yang ada di dunia ini. Bahkan, dengan begini, siapa yang bisa menyawab pertanyaan “Apa bedanya manusia dengan hewan?” Cukup ekstrem memang. Tetapi, bagaimanapun juga ketika seni, sains, politik, dan cinta, semua sudah mengarah kepada kepentingan perut (ekon0mi) semata, bagaimana mungkin kita menjadi manusia seutuhnya?

Maka, pantas rasanya, jika melalui tulisan ini, Teori Darwin yang sejak dahulu kekal dengan kontroversinya, kita buktikan sama-sama kesalahannya. Bahwa sebenarnya nenek moyang kita bukanlah monyet yang berevolusi menjadi manusia, tetapi kita semua yang berevolusi menjadi monyet-monyet masa depan.

Sumber : cache.boston.com/resize/bonzai-fba/Globe_Photo/2010/02/12/1266012326_6786/539w.jpg

Sumber : cache.boston.com/resize/bonzai-fba/Globe_Photo/2010/02/12/1266012326_6786/539w.jpg

Pertanyaan berikutnya, sudah dalam fasa yang mana anda? Jangan-jangan sudah di yang paling kanan?

Categories: Peristiwa Disekitar Kita | Tags: , , , , , , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: