Botol Plastik, Pulau Sampah, dan Urban Farming

“Sebagai generasi masa kini, kita harus berwawasan global namun dapat bertindak dari yang lokal.”

Seteguk minuman dingin, tentu menyegarkan dahaga di terik siang hari. Lebih lagi, dengan adanya botol, kita bisa membawa air minum kita kemanapun kita mau tanpa repot. Sungguh temuan yang luar biasa, padahal dahulu, untuk mendapatkan seteguk air, kita harus menimba air, menampungnya lalu merebusnya sampai mendidih, belum lagi harus menunggu sampai cukup dingin dahulu setelah mendidih.

Tidak cukup dengan fungsi yang sangat tepat guna, botol minuman memiliki bentuk yang bermacam-macam. Ada yang memiliki ukiran-ukiran unik, ada pula yang dilapisi corak berwarna-warni. Semua itu ada untuk memancing kita memilih botol yang itu daripada ratusan maupun ribuan botol lain di sekitarnya. Seakan semakin indah suatu wadah, semakin segar isinya. Menariknya, biaya untuk membuat kita tertarik ini, yang membuat kita mengambil botol itu diantara botol-botol lain di sekitarnya, lalu membelinya, jauh lebih besar dari biaya yang dibutuhkan untuk membuat isi dari botol itu sendiri. Ironis memang, tetapi siapa yang akan memilih untuk meminum dari wadah yang terlihat kusam dan berlabel pas pasan jika disejajarkan dengan botol yang sangat indah? Tentu tidak akan banyak yang akan mengambil resiko. 

Namun, keindahan dan fungsi dari botol itu sendiri, akan habis seiring dengan habisnya isi dari botol tersebut. Selain orang yang benar-benar akan memanfaatkan botol tersebut, hanya orang yang terlalu malas untuk melangkah ke tempat sampah lah yang masih menyimpan botol-botol minuman kosongnya. Lebih lagi, hampir semua botol plastik didesain hanya untuk sekali pakai saja. Sudah barang tentu, setelah isi botol tersebut habis, berubahlah botol yang tadinya “indah” itu menjadi sampah.

Ada yang masuk tempat sampah, ada yang diolah, tetapi tidak sedikit yang mengambang di aliran sungai. Memang, tidak mungkin sampah pergi sendiri menjauh dari kita, kecuali dengan aliran air, sungai. Mengambang, menumpuk, memenuhi pitu-pintu air dekat muara, dan membuat banjir. Namun, tidak sedikit pula yang lolos ke lautan.

Menariknya, mayoritas pantai-pantai yang ada di dunia ini masih bersih. Kalaupun kotor, itu bukan kiriman dari lautan, melainkan dari turis-turis yang membuang sampah sembarangan. Padahal muara-muara dari sungai-sungai yang mengalir ke lautan pekat sekali terkontaminasi sampah. Lantas, kemana sampah-sampah yang masuk ke lautan tersebut?

Adalah “Pulau Sampah”, yang terletak di tengah Samudera Pasifik dan masih banyak di samudera-samudera yang lain. Sampah-sampah tersebut ternyata terbawa arus yang mengalir menuju pusat di tengah samudera. Karena banyak sekali sampah yang terbawa, terkumpullah sampah-sampah tersebut di pusat samudera. Hari ini, pulau tersebut sudah 2 kali lebih luas daripada Pulau Kalimantan, dan akan terus bertambah luas!

Pulau sampah terbentuk selain karena banyaknya sampah yang mengalir ke lautan, juga karena tidak sedikit dari sampah-sampah tersebut “mengambang”, seperti botol yang tertutup dan terisi udara, styrofoam, dan bahan-bahan lain yang massa jenisnya kurang dari air, sehingga akan mengambang. Namun, sampah yang hanyut tidak hanya yang mengambang saja, karenanya, pulau sampah ini memiliki kedalaman sekitar 10 meter, dan akan terus bertambah seiring banyaknya sampah yang mengalir ke laut setiap harinya.

Sampah-sampah yang hanyut tersebut, jumlahnya sangat banyak sampai-sampai mengimbangi jumlah ekosistem laut yang ada di bumi ini. Tidak sedikit hewan yang mengira sampah-sampah ini sebagai alternatif makanan bagi mereka. Terbukti, bermunculanlah hewan-hewan yang ditemukan mati dengan perut penuh dengan sampah.

Masalah ini bukan berati tanpa atau belum ada solusinya. Sudah ada solusinya! Seperti yang dijelaskan di video, masalah ini bisa diatasi dari sumbernya. Dari kita, manusia, yang setiap harinya menghasilkan sampah-sampah plastik ini. Bagaimana caranya? Dengan membuang sampah di tempat sampah? Hmm, coba simak beberapa artikel di bawah ini :

http://www.radar-indo.com/2014/01/tpa-penuh-petugas-kebersihan-sulit.html

http://m.suaramerdeka.com/index.php/read/cetak/2012/07/04/191456

Tentu Masih segar di ingatan kita berita tentang longsornya TPA Leuwigajah :

http://www.pda-id.org/library/index.php?menu=library&act=detail&gmd&Dkm_ID=20050198

Sebenarnya, tidak ada yang salah untuk kita membuang sampah ke tempat sampah, sangat baik malah! Namun, sampah yang kita buang hanya akan menumpuk di TPA-TPA yang kedepannya bakal penuh dengan sampah. Pemerintah sendiri, masih belum siap dengan program pengolahan sampah di negeri ini.

Sebagai generasi muda, tentu ada hal yang jauh lebih baik yang dapat kita lakukan terhadap sampah-sampah tersebut. Hal-hal yang bisa kita mulai dari diri kita sendiri, dari hal yang kecil, dan dari sekarang. Bahkan, dengan cara ini, kita bisa saja tidak perlu untuk membuang sampah lagi kedepannya.

Urban Farming

DSC_0471

Tanaman Strawberry

Adalah Urban Farming,metode bercocok tanam masa kini yang cocok untuk masyarakat di daerah perkotaan yang minim akan lahan kosong. Ya, bertanam sekarang tidak memerlukan lahan yang luas seperti di pedesaan, tidak juga memerlukan pupuk yang mahal, apalagi keterampilan khusus layaknya seorang insinyur pertanian. Semua orang bisa melakukan gerakan ini.

Dimulai dengan memilih sampah-sampah yang kita buang. Karena semua sampah yang kita buang sebenarnya bisa menjadi bahan “kreasi” kita ini. Pertama-tama, kita bagi sampah menjadi dua jenis, yakni sampah yang dapat diurai dengan cepat dalam tanah dan sampah yang membutuhkan waktu yang lama untuk diurai dalam tanah.

Sampah yang tidak dapat diurai biasanya memiliki bentuk seperti bejana,  misalnya kaleng, bungkus plastik, atau botol. Kita bisa bentuk sampah tersebut sedemikian hingga bisa jadi wadah yang menyerupai pot tanaman. Ini akan menyisakan kita pada sampah yang bisa diurai oleh tanah dengan waktu yang relatif singkat. Sampah-sampah ini dipotong kecil-kecil, agar semakin cepat terurai di dalam tanah. Semakin kecil potongannya semakin cepat sampah-sampah tersebut akan terurai.

DSC_0470

Setelah terpotong kecil-kecil, masukkan potongan-potongan tersebut kedalam sampah yang tidak dapat diurai tadi. Misalkan, yang penulis telah lakukan, di kaleng bekas. Setelah itu timbun potongan-potongan tersebut dengan tanah. Jangan tanya tanah cari dimana! Buka mata sob! keterlaluan kalo ga liat tanah di sekitar kita. Tinggal interaksi sama tetangga, sekaligus silaturahmi juga, syukur-syukur bisa menularkan semangat urban farming ini.

DSC_0469

Setelah ditimbun dengan tanah, tinggal kita beri bibit tanaman di atasnya. Bibit sayuran relatif paling mudah untuk ditanam. Selain itu, carinya juga mudah (di toko pertanian atau di toko bunga). Bahkan, ada banyak sayuran yang langsung bisa kita tanam dari sayuran yang biasa kita beli di pasar, seperti bawang, jahe, lengkuas, cabe, dan tomat. Bisa juga kita beli buah di pasar, lalu bijinya ditanam. Tanaman buah ini memiliki waktu tumbuh yang relatif lebih lama dibandingkan sayuran, tumbuhnya pun susah, tetapi layak dicoba juga daripada kita membuang biji tanaman yang sebenarnya bisa menjadi pohon.

DSC_0468

Bawang, Sawi, Pepaya, Cabe

Foto diatas adalah beberapa tanaman yang penulis coba tanam. Menarik sebenarnya mengamati tanaman-tanaman tersebut tumbuh semenjak dari biji. Kita bisa melihat perkembangan tumbuhan ini setiap harinya. Lebih lagi, dengan musim hujan yang sekarang berlangsung terus menerus, kita tidak perlu khawatir tidak sempat menyiram tanaman karena terlalu sibuk dengan urusan kita. Yang menarik juga, jika tiba sudah waktunya berbunga, seperti tanaman strawberry, karena serangga sekarang semakin langka, kita bisa membantu proses penyerbukan dari bunga-bunga yang sedang mekar tersebut. Soal buah, tentu itu bonus yang kita dapatkan.

Bagi penulis, yang utama adalah bagaimana kita bisa menyediakan oksigen bagi kita sendiri sebagai masyarakat di dunia yang selalu membutuhkan oksigen untuk bernafas. Karena mau kita terima atau tidak, hutan kalimantan dan beberapa hutan hujan terakhir di dunia ini sudah semakin menipis. Entah sekarang berubah menjadi sawit ataupun lahan-lahan galian tambang.

Sir David King berpesan kepada generasi-generasi muda dalam sebuah seminarnya, “ketika anda nanti mendesain sebuah teknologi ataupun gerakan, pikirkan dampak yang akan terjadi secara menyeluruh, jangan sampai menyelesaikan satu masalah tetapi muncul masalah yang lain, itu hanya memindahkan masalah, bukan menyelesaikan.”

Dengan urban farming ini kita paling tidak sudah menjaga suplai oksigen paling tidak untuk kita sendiri. Selain itu, jika ada bahan makanan yang bisa dipanen dari sini, menjadi keuntungan lain dari urban farming ini. Tantangan berupa lahan yang sempit bisa kita atasi dengan memanfaatkan masalah disekitar kita, sampah. Sampah-sampah yang bertumpuk dan selalu bertambah kemudian memenuhi lautan, bisa kita olah sendiri menjadi pot dan pupuk. Dan natinya, dengan perawatan yang tepat, kita akan menikmati hasilnya. Oksigen, bunga, buah…

Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, kita coba gerakan urban farming ini! Untuk diri kita, lingkungan sekitar, masyarakat, dan alam raya.

Categories: Isu Lingkungan (Environmental Issue), Kilau Lentera Ide | Tags: , , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: