Bhinnekanya (Kulit?) Budaya Indonesia

Bandung, 6 Oktober 2012, acara “Kemilau Nusantara” yang ke sembilan diadakan dari jam 9.30 pagi persis di depan Gedung Sate. Di dalam acara yang dihadiri gubernur Jawa Barat saat ini, Pak Ahmad Heryawan, Putri Indonesia saat ini, dan beberapa tamu penting lainnya ini, mengkompetisikan masing-masing kesenian daerah dari 39 kontingen yang mengikuti ajang ini. ke-39 Kontingen ini tidak hanya berasal dari kabupaten-kabupaten yang ada di Jawa Barat, tetapi juga beberapa Provinsi-Provinsi yang ada di Indonesia seperti Daerah Istimewa Aceh, Kalimantan Timur, Papua, dan masih banyak lagi.

Ini, salah satu kontingen yang setiap tahunnya juara satu, kebetulan dari daerah asal saya, Jawa Timur :

Acara tersebut berlangsung cukup meriah, sangat meriah bahkan, setiap daerah mempresentasikan budaya masing-masing dengan apik selama 3 menit. Keharidan pelajar pelajar muda (Sekolah Dasar) pun menyemarakkan acara ini. Konon, ini karena himbauan khusus dari dinas pendidikan dan pariwisata Provinsi Jawa Barat.

Masih segar dalam ingatan, beberapa bulan yang lalu terdapat acara yang sangat akbar dan di tayangkan di televisi bertajuk “Djarum Apresiasi Budaya” yang sudah dilaksanakan sebanyak 3 kali dalam beberapa tahun terakhir. Acara ini menampilkan budaya budaya seluruh nusantara baik itu tradisional maupun kontemporer. Seni pertunjukan dari setiap daerah ditampilkan dengan sangat baik. Semaraknya acara selain ditonton oleh ribuan orang yang ada disana, juga sampai di rumah-rumah masyarakat  seluruh Indonesia karena disiarkan oleh televisi dalam negeri.

Tidak hanya dua acara yang mega besar tersebut, masih banyak pagelaran pagelaran lain di Indonesia yang mengeksplor betapa kayanya Budaya Indonesia, betapa bhinnekanya negara kita. Betapa beragam dan bermacam-macam.

Terhibur, seluruh audiens disana terhibur dan merasa bahwa budaya itu menyenangkan. Ya, penonton merasa terhibur, tidak lebih.

Dari sana, penulis merasa tergelitik, apa sebenarnya budaya itu hanya untuk hiburan semata? Atau sebenarnya budaya itu menyampaikan suatu nilai tertentu? Dari sini, mari kita kenal, sebenarnya apa sih arti kata “budaya” itu?

Beberapa pakar-pakar budaya mencoba mendefinisikan tentang budaya itu sendiri, beberapa diantaranya yang bisa kita jadikan referensi adalah:

1. Koentjaraningrat

“Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.”

2. William H. Haviland

“Kebudayaan adalah seperangkat peraturan dan norma yang dimiliki bersama oleh para anggota masyarakat, yang jika dilaksanakan oleh para anggotanya akan melahirkan perilaku yang dipandang layak dan dapat di tarima ole semua masyarakat.”

3. Ki Hajar Dewantara

“Kebudayaan berarti buah budi manusia adalah hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni zaman dan alam yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran didalam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai.”

Jika penulis mencoba merangkai definisi dari referensi-referensi yang ada, muncullah definisi bahwa budaya adalah respon kita terhadap alam sekitar kita. Alam di sekitar kita pasti memberikan aksi (efek) terhadap diri kita. Ketika diri kita menerima efek tersebut, diri kita pasti akan mengeluarkan reaksi dari alam tersebut. Karena reaksi tersebut relevan terhadap banyak orang dalam kurun waktu tertentu, banyak dari manusia mewariskan cara mereka merespon efek dari alam tersebut kepada keturunan-keturunannya. Dari sana lahirlah budaya yang baru.

Cara kita untuk merespon alam tersebut seringkali memiliki keunikan yang layak untuk dipertontonkan. Naah, pertunjukan “budaya” inilah yang dinamakan dengan seni.

Ya, budaya memiliki arti, memiliki nilai, yang disampaikan dengan metode-metode yang dinamakan seni. Budaya sendiri adalah satu kesatuan antara nilai atau makna, kebiasaan sosial, dan hal yang terlihat (seni/ prasasti).

Namun, jika penulis melihat hal-hal di sekitar kita akhir akhir ini, penulis merasa prihatin. Serasa ada yang kurang.

Kita sebagai masyarakat Indonesia memang memiliki budaya masing-masing suku kita, masing masing daerah kita, dan kita BANGGA akan hal itu. Beberapa dari kita bahkan masih memiliki semangat untuk melestarikannya.

Namun, dalam pelestarian budaya, tampaknya ada hal yang hilang, yaitu pewarisan nilai dari budayanya sendiri. Mari saya contohkan dengan beberapa contoh kasus yang mendukung opini saya :

Yang pertama adalah penggunaan batik sesuai selera pasar. Corak batik tertentu sebenarnya diperuntukkan untuk orang-orang terhormat seperti raja dan golongan ksatria lainnya. Namun, sekarang-sekarang, karena terdapat metode pembuatan batik yang murah dengan mengesampingkan kualitas, corak yang sama dapat dinikmati oleh semua orang.

Contoh kasus berikutnya, Pernak-pernik yang menjadi prasasti-prasasti yang dulunya memiliki makna dalam pembuatan maupun pemakaiannya, sekarang bisa menjadi milik siapapundengan harga yang terjangkau.

Contoh yang paling terlihat adalah berbagai tarian-tarian di seluruh nusantara yang seharusnya memiliki kasus tertentu untuk mengadakannya seperti nikahan, menang berperang, panen, atau mengundang hujan, sekarang dapat dinikmati kapan saja. Bahkan, tarian-tarian dan berbagai seni pertunjukan lainnya dapat dikombinasikan menjadi satu ataupun diurutkan untuk menjadi suatu rangkaian acara yang berudari beberapa jam hanya untuk menghibur masyarakat! ya! Hanya untuk menghibur tanpa menyampaikan apa sebenarnya nilai yang terkandung di dalamnya.

Pertanyaan saya, apakah budaya Indonesia yang kita bangga-banggakan sangat banyak dan kaya tersebut hanyalah seni dan hiburan yang hanya akan menjadi konsumsi lewat saja? Apakah kita hanya mewarisi metode penyampaian (artefak ataupun seni) saja dari unsur-unsur budaya yang ada?

Penulis meyakini bahwa budaya kita masing-masing memiliki nilai, memiliki arti yang luhur, yang harusnya kita maknai dari seni dan artefak yang tertampilkan..

Selagi kita masih memiliki kesempatan, selagi kita masih bisa berusaha, mari kita miliki sepenuhnya budaya kita yang luhur ini. Mari kita evaluasi kembali kepemilikan budaya kita. Mungkinkah budaya yang kita warisi sebenarnya terlalu lokal? Sehingga hanya dapat diaplikasikan di daerah tertentu di saat tertentu saja?

Atau, sebenarnya pencarian akan makna / arti sebuah tampilan budaya (seni / artefak) itu ternyata tidak perlu? Ataukah justru sebenarnya budaya yang kita warisi ini sudah tidak relevan dengan kehidupan masa kini?

Sekiranya ini pertanyaan-pertanyaan yang muncul di benak penulis, mari kita cari tahu dan diskusi bersama, kawan :)

Categories: Budayaku, Budayamu, Budaya Kita | Tags: , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: