Mengapa Sumpah “Pemuda”? bukan Sumpah “Mahasiswa”?

Memperingati 84 tahun sumpah pemuda,

SOEMPAH PEMOEDA

KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA

KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA

KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA

                                           Djakarta, 28 Oktober 1928

Wahai kawan-kawan mahasiswa, pernahkan terfikir, mengapa peristiwa bersejarah yang meninggalkan bukti yang tertulis diatas dinamakan Sumpah Pemuda? Bukan Sumpah mahasiswa?

Lalu, jika melihat akhir-akhir ini mengapa pergerakan-pergerakan sekarang banyak merupakan pergerakan mahasiswa? bukan lagi pergerakan-pergerakan pemuda?

Sejak kapan sih sebenarnya terminologi “pemuda” bergeser menjadi “mahasiswa”? Dan, mengapa harus berubah? Apa alasan berubahnya pemuda ke mahasiswa?

Itu sekiranya hal-hal yang akan kita renungi bersama, evaluasi bersama, dan kita benahi bersama jika memang ada jalan yang lebih baik. Namun, sebelum sampai kesana, penulis ingin membawa kita semua dalam satu memori masa lalu Indonesia yang sangat relevan. Sejarah.

Perjuangan pemuda-pemuda Indonesia sudah dimulai dari jauh sebelum sumpah pemuda disepakati. Namun, perjuangan yang bersifat lokal dan kedaerahan tersebut dapat dimanfaatkan dengan mudah oleh VOC dan Pemerintah Belanda.

Pemuda-pemudi yang mulai sadar akan butuhnya pergerakan bersama mulai berbenah. Hal ini tersimpan dalam dokumentasi pendirian Jong Java pada tahun 1918. Pendirian Jong Java ini membuka paradigma baru akan perjuangan pemuda. Dari sana banyak organisasi-organisasi yang menyusul seperti  Jong Sumatranen Bon, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, dan Sekar Rukun (sunda).

Pada Novembar 1925, organisasi-organisasi kepemudaan tersebut berkumpul demi tujuan mulia : Tri Koro Darmo : sakti, budi, dan bakti. Pertemuan tersebut berlanjut sampai beberapa pertemuan setelahnya dan pada tanggal 28 Oktober 1928, Persatuan pemuda seluruh Indonesia mengikrarkan Sumpah Pemuda yang sangat terkenal tersebut.

Begitulah ragam peristiwa, dan perjuangan yang panjang yang akhirnya menghasilkan tiga sumpah yang kita kenang sampai saat ini dengan sebutan sumpah pemuda Ya, yang patut kita kenang bukan hanya hasilnya kawan, namun yang jauh lebih penting dan mendasar adalah makna proses perjuangan yang panjang dan melelahkan dibalik hasil ini. Dibalik hasil yang dapat diingat terdapatlah proses panjang yang luar biasa.

Ya, sumpah pemuda ini adalah cerminan dari perjuangan-perjuangan yang tidak kenal lelah dari pejuang-pejuang dibaliknya. Untuk menghasilkan sesuatu yang besar, dibutuhkan proses yang tidak mudah, proses yang tidak singkat, proses yang tidak instan.

Semenjak 1928, para pemuda tidak kenal lelah untuk meneruskan perjuangan para pejuang-pejuang terdahulu. Organisasi organisasi nasional terus bermunculan seperti Partindo, PNI, Parindra, Gerindo, GAPI, dan masih banyak lagi menandakan jiwa jiwa muda yang ingin merdeka. Sampai lah pada puncak saat Bung Karno dibawa ke Rengasdengklok.

Disana, golongan muda ingin Indonesia segera merdeka, melawan suara dari golongan tua yang terkesan ingin main cantik, ingin menunggu momen yang pas untuk kemerdekaan Indonesia. Namun, disana terlihat, perubahan, terlahir dari semangat-semanget para pemuda pemudi Indonesia. 17 Agustus 1945 Indonesia Merdeka!

Perjuangan pun diteruskan di pasca kemerdekaan Indonesia. Mulai dari 10 November di Surabaya, Peristiwa Ambarawa, Bandung lautan Api dan masih banyak lagi, menunjukkan bahwa semangat pemuda tidak mudah untuk dikalahkan. Hal ini terus berlanjut sampai peristiwa peristiwa penting lainnya.

Masuklah kita pada tahun 1965, dimana peristiwa G30S-PKI terjadi, diikuti Hari Kesaktian Pancasila dan diakhiri dengan Peristiwa paling kontroversial di sepanjang sejarah Indonesia “Supersemar”. Dimana para mahasiswa yang tergabung dalam KAMI (kesatuan aksi mahasiswa indonesia) bergerak bersama pemuda-pemudi meneriakkan “Tritura” (tri tuntutan rakyat) yang berisi Bubarkan PKI, Rombak Kabinet Dwikora, dan Turunkan Harga.

Suara masif dari pemuda dan mahasiswa tersebut akhirnya menjadi salah satu faktor lengsernya orde lama yang dipimpin oleh Bung Karno. Muncullah era baru, penuh harap, yaitu Orde Baru yang dipimpin oleh Jenderal Soeharto.

Ternyata, harapan tinggi yang dititipkan mahasiswa dan pemuda waktu itu tidak juga terwujud di era Presiden Soeharto. Malah kebebasan pers sangat dikekang, transparansi informasi sangatlah sedikit. Semua kebijakan banyak diambil secar sepihak oleh pemimpin Indonesia waktu itu.

Peristiwa peristiwa pergerakan pun muncul. Yang terkenal adalah peristiwa malari pada 15-16 Januari 1974. Dimana pada saat itu kunjungan Perdana Menteri Jepang diwarnai oleh aksi dari mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang tidak setuju dengan kebijakan Impor Indonesia yang banyak menguntungkan pihak asing.

Pergerakan-pergerakan mahasiswa tersebut terus berlangsung sampai mencapai puncak pada tahun 1998. Rezim yang sangat mengakar, yang telah berkuasa selama 32 tahun, yang telah kokoh berdiri akhirnya tumbang juga, salah satunya oleh pergerakan-pergerakan mahasiswa. Ya, pergerakan mahasiswa!

Pergeseran makna pemuda ini memang terjadi, kawan. Sejak terkungkungnya pers dan informasi, praktis hanya sebagian kecil masyarakat saja yang tahu akan realitas bangsanya. Begitu juga dengan golongan pemuda. Hanya sedikit yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi akan bangsa ini, dan yang memiliki perlindungan untuk bersuara, yang memiliki kebebasan untuk bersuara adalah golongan kecil yang berjuluk mahasiswa.

Hari ini, tahun 2012, dimana pers bebas berbicara. Dimana informasi bis diakses oleh siapa saja, dimana saja, dan kapan saja. Tahun dimana semua orang bebas mengutarakan pendapat dan opininya. Tahun dimana kita dapat menyuarakan aspirasi kita kepada pemimpin kita langsung tanpa perantara.

Namun, apa yang terjadi kawan. Derasnya informasi yang mengalir justru membuat sebagian besar dari kita lembam. Kita seakan jenuh akan pemberitaan di media yang tiada akhir mengenai buruknya negeri ini dan itu menyebabkan sebagian besar dari kita pesimis dan bahkan apatis terhadap negara ini.

Akhirnya, hanya sebagian kecil orang yang memiliki sejarah besar pergerakan, yang merasakan beban moral bahwa pendahulunya telah melakukan pergerakan yang besar, yang akhirnya tergerak untuk meneruskan tonggak perjuangan-perjuangan yang telah lama turun-temurun diwariskan. Namun, itu pun juga hanya sebagian kecil dari mahasiswa saja! sebagian besar lainnya bahkan tidak merasakan beban moral atas sebutan “Maha” di depan kata siswa.

Ya, kawan… melalui tulisan ini, saya ingin membawa kita semua kembali bertanya, kembali menapak tilas bagaimana perjuangan-perjuangan dari masa lalu. Dan mari kita renungkan, mengapa semakin dewasa negara kita ini, semakin hilang yang namanya semangat pemuda. Semangat yang memiliki mimpi setinggi langit! Semangat yang membawa perubahan! Semangat yang ceroboh namun menggebrak!

Mengapa setiap tahun bertambah tuanya “sumpah pemuda” ini, semakin sedikit di negara kita yang memiliki jiwa muda perjuangan. Dari pemuda, mahasiswa, sekarang menjadi sebagian kecil mahasiswa saja. Padahal, sejarah mangatakan, perubahan-perubahan besar negeri ini selalu didasari oleh semangat jiwa-jiwa muda Indonesia ini.

Kita, mahasiswa, seharusnya menjadi pemimpin, penggerak, dan penentu arah dari sebagian besar golongan pemuda lain untuk bergerak menuju gebrakan perubahan, Indonesia yang benar-benar Merdeka!

Kita Bisa, Kawan!

Categories: Agenda Mendesak : Selamatkan Indonesia | Tags: , , , , , , , | 3 Comments

Post navigation

3 thoughts on “Mengapa Sumpah “Pemuda”? bukan Sumpah “Mahasiswa”?

  1. krennn banget dah om.. izin copas dah beberapa bagian nya,, nggak semua kog :)

  2. Pingback: Reformasi Pemuda Mahasiswa saat Terjadinya Sumpah Pemuda 1928 | Fajar Kukuh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: