Marketing Hari ini dan Masa Depan

Sedikit sharing nih kawan kawan, Kemarin saya menghadiri seminar bertajuk ” Insight of the Future” Predicting Global Trends of Marketing System” dan mendapatkan banyak pencerahan. Karena saya berprinsip bahwa orang yang tahu memiliki tanggung jawab moral untuk memberi tahu orang-orang yang belum tahu, saya memilih untuk memberi tahu orang lain dengan cara yang lebih efektif daripada one on one, yaitu dengan menulis.

Yup! lagsung saja, Bagi yang pingin mempunyai bisnis, bagi yang ingin memasarkan produknya tapi masih bingung caranya, Langsung saja pay attention to this article, karena anda akan mendapatkan beberapa tips yang cukup oke menurut saya, so lets discuss!

Jika kita melihat ada baligho-baligho yang mega besar di pinggir-pinggir jalan, ikan-iklan yang nonstop ada di televisi, dan sponsor-sponsor acara besar dimanapun anda melihatnya, muncul pertanyaan, apakan cara-cara tesebut sudah benar-benar efektif? Atau, yah, tidak usah berlama-lama lagi, Ya! cara ini memang sudah kuno.

Selama ini, sebagian besar orang menganggap konsumen adalah uang, uang, dan sumber pemasukan. Tidak lebih! Namun, sejatinya, konsumen konsumen yang ada di dunia ini semua adalah manusia, yang memiliki rasa kemanusiaan, kawan. Ya, kunci dari marketing hari ini dan masa depan adalah memposisikan konsumen sebagai manusia seutuhnya. Untuk melakukan penjualan yang baik, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

#1 Good Product!

Yang pertama adalah produk kita itu sendiri. Ketika kita memiliki sebuah produk, ada beberapa pertanyaan yang wajib kita jawab sebagai seorang marketing. Apakah produk kita, yang notabene adalah penemuan atau teknologi, merupakan produk yang relevan dengan kebutuhan pasar? Apakah produk kita dapat diandalkan? Apakah produk kita layak dipercaya? Jika ya, kita masuk dalam bahasan berikutnya. Karena memang, kita harus menjual produk yang memang berguna untuk orang banyak. Jika niatan kita baik, maka kita akan mendapat kebaikan pula.

Berikutnya, hal yang perlu diperhatikan adalah keunikan dari produk kita. Apakah produk kita berbeda dari yang lain? Apakah bedanya cukup signifikan sehingga kita layak untuk menjualnya? Jika memang belum, ada baiknya kita melihat potensi lokal yang ada di suatu daerah. Potensi lokal selama ini kurang terasa keunikannya karena hanya terpasarkan di daerah yang lokal saja. Jika kita bisa memasarkannya secara global, maka keunikan, kekhasan produk kita tidak akan diragukan lagi.

#2 Good Packaging!

Jika kita sudah yakin terhadap produk kita baik dari kegunaan, kualitas, maupun keunikan, kita sebaiknya jangan melupakan masalah yang sangat krusial, Packing (kemasan). Yang pertama, isu yang sangat hangat dibicarakan hari ini dan kedepan adalah lingkungan. Apakah kemasan kita dapat diolah dengan mudah oleh lingkungan? Apakah kemasan kita dapat kita tanggung jawabi? Apakah kemasan dari produk kita tidak akan termasuk 40% dari total sampah yang ada di dunia ini? (ya, 40% dari sampah padat yang ada di dunia ini dihasilkan dari kemasan).

Kemasan yang baik adalah kemasan yang dapat diolah oleh alam dengan cepat. Lebih lagi, kemasan yang baik adalah kemasan yang simpel, tidak berlebihan. Karena, yang sebenarnya kita jual adalah isinya, nilai dari barang kita, bukan kemasannya. Fokuskan biaya ongkos produksi kita pada bahan baku, bukan pada kemasan. Ya, produk yang baik adalah produk yang simpel dan mudah diolah oleh alam.

Maskipun simpel, aspek-aspek yang ada dalam kemasan sangat menentukan minat beli dari konsumen. Tidak dapat dipungkiri bahwa konsumen masih memegang prinsip “menilai buku dari sampulnya”. Hal yang cukup berpengaruh adalah slogan dari produk kita. Hal-hal kecil seperti susunan kata-kata, suara, intonasi, dan emosi, sangat menentukan psikologi konsumen untuk memilih produk kita dari sekian banyak produk yang ada di pasaran. Selain itu masih banyak yang lain seperti pemilihan nama produk, warna kemasan, warna logo, bahan kemasan, dan masih banyak lagi.

Ya, meskipun begitu, kemasan HANYA menyebabkan kita mendapatkan perhatian dari konsumen, selebihnya ditentukan oleh kualitas produk kita sendiri.

#3 Konsumen adalah manusia!

Yang terakhir namun yang terpenting adalah perlakuan kita terhadap konsumen kita. Konsumen adalah manusia, bukan mesin uang!

Berbeda dengan mesin uang, manusia mempunyai hati nurani, mempunyai perasaan, dan mempunyai mulut untuk mengutarakan perasaan dan apa yang ada di hati nuraninya. Lebih penting lagi, manusia cenderung lebih mempercayai pernyataan orang lain (lebih lagi jika orang tersebut yang dia kenal) daripada iklan iklan yang ada di TV, surat kabar, internet, dan lain-lain.

Karenanya, libatkan konsumen sebanyak banyaknya kedalam produk kita. Jika perlu, berikan sampel gratis kepada beberapa konsumen dan biarkan mereka mengeluarkan testimoninya. Jika testimoni itu kurang baik, maka itu akan jadi evaluasi yang berharga untuk perbaikan produk kita. Lebih baik lagi jika testimoni yang keluar adalah testimoni yang baik. Kita bisa memanfaatkannya sebagai bahan untuk membranding produk kita menjadi produk yang dikenal “baik” di masyarakat.

Semakin kita menghargai konsumen, semakin konsumen merasa puas dengan pelayanan kita. Seringkali kita untuk memberikan kritik atau memberikan komplain kita harus menelpon berkali-kali untuk masuk ke extension yang tepat dalam suatu perusahaan. Seolah perusahaan tersebut merespon kritik dan saran kita dengan “yeah, whatever you say. I don’t care. Just buy my product and give me your money.”

Coba bayangkan ketika kita sebagai konsumen, memberikan kritik kepada suatu perusahaan atas produknya, dan kita diterima dengan terbuka dan jika memang kritik itu baik, perusahaan itu bisa berbenah. Alangkah senangnya konsumen itu. Ya, konsumen kita adalah manusia yang memiliki otak, manusia yang pintar, manusia yang bisa berfikir. Mengapa tidak kita saling bekerja sama untuk menghasilkan produk yang lebih baik, untuk membantu lebih banyak manusia di dunia ini.

* Tambahan : Amal adalah sifat yang tertanam dalam hati setiap manusia.

Masih banyak orang-orang yang kurang beruntung diantara kita. Masih banyak orang-orang yang belum bisa merasakan produk kita, manfaat produk kita. Karenanya, mengapa tidak kita bagi sebagian dari keuntungan kita untuk orang-orang yang kurang beruntung tersebut.

Pembagian keuntungan tersebut, jika kita atur dengan baik dan kita dapat memperlihatkan buktinya kepada konsumen, maka respect (pengakuan) dari konsumen akan produk kita akan semakin besar. Ya, kita memperlakukan manusia, seperti manusia seutuhnya, sebagaimanapun keadaan sosial mereka, sebagaimanapun keadaan ekonomi mereka.

Kita terlahir dengan segala kebaikannya

Karena setiap manusia terlahir dengan akal dan hati :)

Categories: Peristiwa Disekitar Kita | Tags: , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: