Perguruan Tinggi dan Pabrik “Buruh” Intelektual

– Memperingati Hari Buruh Nasional – 01 Mei 2012 –

Tidak terasa, setahun telah berlalu, sejak penulis dan beberapa anak Loedroek ITB membuat “sentilan” ini untuk publikasi acara maen gedhe kami yang berjudul “Maha Gaya Ganesha” (05 Mei 2011). Bertepatan dengan hari buruh (01 Mei 2011 dan hari pendidikan nasional 02 Mei 2012) kami memasang propaganda ini di depan kampus kami. Agar semua orang bisa melihat..

Selamat Datang Putra Putri Terkaya Bangsa

Sekarang, mendekati hari Buruh dan Hari Pendidikan Nasional, tantangan yang dihadapi persis sama seperti tahun lalu. Pengangguran yang berceceran. Gaji yang kurang. Masyarakat yang bekerja tanpa passion. Bahkan, bukan hanya tahun lalu, masalah ini sudah ada sejak tahun-tahun sebelumnya.

Sesuai dengan berdekatannya tanggal antara hari buruh (01 Mei) dan hari pendidikan nasional (02 Mei), saya melihat adanya hubungan yang cukup erat diantara kata pendidikan dan buruh. Terutama dari sudut pandang penulis sebagai mahasiswa.

Semakin lama, semakin mahal uang yang dibutuhkan mahasiswa untuk berkuliah di perguruan tinggi di negeri ini. Semakin sekarang, semakin sedikit pula jatah tahun kita di kampus ini. Pada angkatan penulis saja harus sudah angkat kaki dari kampus ini maksimal setelah 6 tahun. Pendidikan sangat dipadatkan hingga beban sks sudah tidak lagi menggambarkan waktu kita untuk menguasai mata kuliah itu.

Tuntutan kuliah yang semakin besar

Sangat berbeda dengan kondisi kampus pada masa lalu yang biayanya sangat murah dan kita tidak ada batasan untuk lulus dalam sekiat tahun. Tentu saya bukan berfikir untuk selamanya berada di kampus. Yang penulis cermati disini adalah waktu dari mahasiswa yang semakin padat untuk hal akademis ini sehingga kurang untuk belajar mengenai hal-hal lain dalam kehidupan pematangan karakter sendiri.

Melihat ini penulis berfikir, sebenarnya untuk apa sih didirikan kampus kampus di Indonesia ini? Apakah benar kita diciptakan untuk menjadi negarawan yang memimpin negara ini untuk menjadi lebih baik?

Usut demi usut, penulis menemukan bahwa tujuan didirikannya perguruan tinggi adalah untuk mencetak tenaga-tenaga ahli sebagai penyokong aspek aspek strategis negara seperti industri, energi, hukum, kedokteran, dan masih banyak lainnya. Ternyata, memang, kampus didesain untuk melahirkan “pekerja”. Pekerja intelektual yang bayarannya jauh lebih tinggi daripada tamatan sekolah menengah. Dan memang tidak salah jika sekarang, sesuai dengan kebutuhan industri, rentang waktu untuk mahasiswa dapat di kampus dipersingkat agar cepat lulus dan bekerja.

Universitas : Pabrik Pekerja “kelas tinggi”

Ya, kampus adalah metode PENDIDIKAN utama untuk mencetak BURUH. Buruh elit dengan bayaran diatas rata-rata.

Namun, penulis memandang sekitar. dan penulis sadar, penulis berada diantara orang-orang paling cerdas di negeri ini. Penulis berada diantara orang-orang paling cepat belajar di negeri ini. Karena untuk masuk dalam kampus ini, kami harus mengikuti seleksi berlapis yang cukup ketat. Jadi memang, orang-orang yang lalu lalang di kampus ini sudah pasti jaminan mutu.

Dari modal yang sangat besar tersebut, sudah tentu dong jika masyarakat banyak berharap pada lulusan lulusan kampus-kampus yang terbaik ini. Mereka berharap bakal ada generasi-generasi penerus Ir. Soekarno, Prof. Habibie, dan seterusnya. Para pemimpin pemimpin bangsa yang akan membuat bangsa ini menjadi tersenyum kembali, bukan sekedar peramai antrian Departemen Ketenagakerjaan.

Antrean Pejuang-Pejuang Pencari Kerja

Untuk masuk di institusi ini saja, satu orang mengalahkan 20 orang lainnya. Jadi, ketika kita berbahagia, bersenang-senang ketika pengumuman keterimanya kita di institusi ini, ada 20 orang lain yang sedang menagisi nasibnya. Karenanya, sudah merupakan kewajaran jika satu orang mahasiswa kampus ini bisa menghidupi 20 orang lainnya dengan cara yang halal. Lebih lagi jika 20 orang tersebut adalah lelaki yang kedepannya pasti memimpin keluarga mereka masing-masing. Katakanlah sesuai keluarga berencana, setiap keluarga terdiri dari 1 ayah, 1 ibu, dan 2 orang anak, sudah 80 orang yang harus kita tanggung hidupnya karena kita masuk institusi ini kawan.

Jika kita yang sudah terseleksi dengan baik ini masih saja mengambil jatah mereka sebagai “pekerja”, bagaimana mereka bisa hidup kawan? Kita, sebagai orang terpilih sudah seharunya mempunyai inovasi yang segar sesuai kapasitas otak kita yang untungnya lebih besar dari sebagian besar rakyat negeri ini.

Inovasi : Solusi Bangsa ini, ide andakah?

Disini bukan berati penulis mendiskreditkan anda yang mendaftarkan diri sebagai “pekerja”, penulis sangat hargai pilihan anda untuk hidup anda. Karena memang, banyak jalan menuju Roma. Banyak metode yang bisa kita lakukan untuk mencapai visi kita bersama. Anda bisa saja menjadi dosen yang mengabdi untuk pendidikan generasi-generasi muda selanjutnya atau bahkan membangun sekolah yang sesuai dengan misi pendidikan menurut versi anda, anda boleh saja menjadi pembaharu di sistem birokrasi negara ini, anda boleh saja menjadi pegawai swasta di perusahaan multinasional, anda boleh mengumpulkan modal dengan bekerja dahulu, anda boleh langsung terjun ke dunia sosia kemasyarakatan dengan mengabdi langsung, anda boleh memilih jalan anda sendiri. Namun ingat, kita adalah orang-orang terpilih, kawan. Sudah selayaknya kita meneruskan perjuangan-perjuangan para pendahulu kita.

Perjuangan Bung Karno, Mari Kita Lanjutkan!

Categories: Agenda Mendesak : Selamatkan Indonesia | Tags: , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: