Geliat Kanker dalam Pendidikan Indonesia

– Memperingati Hari Pendidikan Nasional – 02 Mei 2012 –

90 persen lebih orang Indonesia ini tidak mecintai apa yang dia kerjakan sekarang, Mereka mungkin termasuk anda juga, bekerja tanpa mempunyai “passion” sedikitpun. Entah yang membuat anda bertahan dengan pekerjaan anda sekarang itu adalah status sosial, ketenaran, kolega, atau bahkan hanya belandaskan uang semata?

Bekerja tanpa passion

Ya, intinya, sebagian besar masyarakat Indonesia tidak menyukai apa yang mereka lakukan sekarang dalam hidupnya. Bahkan, tidak sedikit dari mereka tidak mengetahui apa passion sebenarnya dari hidupnya. Lantas, mengapa sejak dulu hal ini kerap terjadi dan berulang-ulang? Banyak faktor yang mempengaruhi, salah satu faktor terbesar yang menpengaruhi hal ini adalah sistem pendidikan di negeri ini yang bisa dibilang “sakit”.

Masih ingatkah anda pada masa masa ini :

Barisan anak-anak SD yang berpakaian sama, “seragam”.

Ya, masa-masa sekolah, sejak sekitar 3 sampai 4 tahun kita harus memakai pakaian yang sama dengan teman kita hingga sekitar 18 tahun. Pakaian bernama seragam ini harus kita pakai sebagai syarat untuk belajar di tempat bernama “sekolah” ini. Jika tidak, meskipun hanya sebagian kecil saja kita tidak sama, kita akan mendapat hukuman yang seringkali cukup keras untuk membuat para pemuda-pemudi ini menjadi trauma.

Kebiasaan inilah yang secara tidak langsung akan tertanam kepada setiap generasi-genarasi muda dan menjadikan mereka untuk berfikir homogen dan tidak ingin maju dan mengambil inisiatif mereka. Karena, semakin lama mereka merasakan sistem pendidikan “seragam” ini, semakin dalam tertanam dan hilang keberanian mereka untuk maju dan berinisiatif untuk bergerak.

Ketika di kelas melihat benda ini terus menerus?

Jam dinding kelas yang tidak kunjung berputar

Ya, betapa bosannya kita menghabiskan berjam-jam waktu kita setiap hari di dalam suatu ruangan bernama “kelas” dengan seorang di depan yang kita panggil “guru”. Seringkali, kebosanan di kelas ini disebabkan kurang kompetennya para pengajar-pengajar yang ada di bidang mereka. Karena memang, di Indonesia ini, pekerjaan sebagai guru masih dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang. Hanya segelintir orang-orang kompeten yang merasa benar-benar siap untuk mengabdi pada bangsa ini, sisanya, hanya orang-orang yang tidak diterima di perusahaan-perusahaan multinasional lah yang mengisi posisi yang seharusnya mulia ini.

Atauu.. Masa-masa ini?

Ujian Nasional : 1 Minggu yang menentukan kualitas 3 tahun proses pembelajaran, relavankah?

UN (Ujian Nasional) diadakan selama seminggu setiap tahun sebagai proses pengevaluasian dari proses pembelajaran setiap generasi muda dalam kurun studinya (SD 6 tahun, SMP dan SMA 3 tahun normalnya). Hanya seminggu, untuk menentukan apakah proses pembelajaran anda selama bertahun-tahun itu sudah benar atau tidak. Ya, Hanya Seminggu saja.

Hampir semua murid yang akan menghadapinya pasti merasakan tekanan berlebih pada hidupnya. Tidak peduli mereka itu pintar, malas, terutama yang masih merasa dirinya belum siap. Tekanan yang besar ini terkadang masih juga ditambah tekanan lain yang berasal dari rumah, yaitu orang tua yang ingin anaknya mendapatkan nilai yang baik pada Ujian Nasional ini entah apapun kepentingan mereka. Selain itu, pemuda-pemudi ini pun masih mendapat tekanan yang luar biasa besar, terutama bagi adik-adik yang masih di bangku Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dimana syarat utama untuk memasuki sekolah lanjutan mereka yaitu SMP dan Sekolah Menengah Atas (SMA) adalah nilai UN yang sangat tinggi, jauh diatas rata-rata.

Semakin anda tertekan semakin anda memohon

Dipastikan, setiap murid pasti akan merasakan atmosfer tertekan dalam hidupnya pada fasa-fasa ini. yang merasa belum siap takut akan ketidak-lulusan, yang cukup siap takut jika tidak bisa melanjutkan sekolah di sekolah lanjutan yang favorit yang mereka inginkan. Sungguh keadaan yang penuh horror yang cukup membuat sebagian besar dari adik-adik ini untuk mulai menghalalkan segala cara untuk “lolos” dari fasa ini dengan selamat.

Bahkan, tidak jarang pula aksi ini mendapat dukungan dari guru-guru di sekolah-sekolah yang ada hanya untuk meningkatkan hal yang mereka anggap penting bernama “akreditasi” dan “rangking sekolah”. Parahnya, beberapa wali murid pun sudah mengaku kalah dan meremehkan kemampuan anak mereka sendiri dengan menghalalkan anak mereka untuk melakukan kecurangan-kecurangan tersebut.

Ya, fasa-fasa inilah yang membuat sebagian besar kita, menjalani tahun-tahun pendidikan kita dengan penuh horor dan tekanan, sedangkan atmosfer kenyamanan dan pencarian passion dalam hidup terabaikan karena kita tidak sempat terfikir sedikitpunakan hal itu karena larutnya kita dalam teror-teror UN.

Penuh antusiasme dalam menjalani hidup!

Memang, masih ada beberapa orang yang masih selamat meskipun mereka menjalani sistem ini. Jelas ada, karena sistem ini, meski sangat besar pengaruhnya terhadap karakter dari anak muda, tetap sistem pendidikan ini bukan satu-satunya yang berpengaruh terhadap karakter dari adik-adik. Masih ada faktor lingkungan dimana mereka dibesarkan, faktor genetik, dan lain-lain.

Meski begitu, sistem ini sudah terbukti tidak efektif dan hanya membuat generasi-generasi yang “sakit”. Ada baiknya kita melihat bagaimana sistem-sistem pendidikan di negara-negara lain yang mendapatkan apresiasi sebaga sistem-sistem pendidikan yang baik, terbaik bahkan.

Hubungan yang sehat antara guru dan murid

http://www.mizan.com/index.php?fuseaction=news_det&id=518

Disini diceritakan bahwa sekolah-sekolah di Finlandia, negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia, jam murid di kelas di desain sesingkat mungkin dan tidak dibebankan pekerjaan rumah kepada murid-murid. Pekerjaan sebagai guru di negara ini sangat dipandang, selain dari gaji yang selangit, untuk menjadi pengajar di negara ini, anda harus menjadi lulusan-lulusan terbaik di bidang anda. Yang terpenting, di negara ini tidak diadakan sistem Ujian Nasional. Tidak berlaku sistem penilaian secara horor seperti yang ada di negara ini.

Perbedaan yang menunjukkan harmoni

http://www.mizan.com/index.php?fuseaction=news_det&id=519

Dapat dilihat pula di artikel berikutnya, 5 negara dengan sistem pendidikan terbaik benar-benar menginvestasikan anggaran belanjanya dalam prosi yang sangat besar pada sektor pendidikan ini. Hal ini yang dirasa kurang dijalankan di negara ini. Secara, negara ini lebih mementingkan harga bahan bakar yang murah dengan subsidi yang tidak masuk akal ketimbang kualitas generasi-generasinya.

Jika kita mencoba kembali kepada tujuan dari pendidikan itu sendiri, kita akan melihat bahwa tujuan pendidikan sangat relevan dengan tujuan penciptaan manusia. Manusia diciptakan untuk menjadi kholifah, sebagai pengatur alam ini dengan adil dan bijaksana. Karenanya, dengan tujuan pendidikan yaitu memanusiakan manusia, kita selayaknya belajar lebih dekat dengan alam ini, memahami apa rahasisa dibalik alam ini, ilmunya, logikanya, dan tataran-tatarannya.

Khalifah alam : Produk penciptaan manusia

Karenanya, sebaiknya pendidikan di negeri ini berasaskan tujuan pendidikan semestinya, yaitu memanusiakn manusia. Mari kita mengenalkan alam ini kepada generasi generasi kita dengan empati, bahasa ibu (kasih sayang), dan ketegasan dalam kepemimpinan. Semuanya dalam porsi yang pas agar kita dapat membentuk kholifah-kholifah yang kelak dapat mengatur alam ini khususnya negara ini menjadi lebih baik.

Jika anda dapat melakukan sesuatu dan anda yakin hal itu benar maka lakukanlah. Namun, paling tidak, marilah kita, sebagai orang-orang terdidik, membagi ilmu yang kita punya kepada sebanyak-banyak manusia. Karena memang, sebaik-baik manusia adalah yang berguna bagi sesamanya.

Dan ilmu yang anda peroleh bukanlah warisan untuk anda, melainkan titipan untuk generasi-generasi anda berikutnya. Jadi, pahamilah ilmu itu karena anda harus membaginya kepada orang lain, junjung tinggi kejujuran, temukan passion anda dalam hidup ini dan mari kita bangun negara ini menjadi negara yang lebih baik.

Semangat Pemuda Pemudi untuk menuntut Ilmu

– Selamat Hari Pendidikan Nasional –

Categories: Agenda Mendesak : Selamatkan Indonesia | Tags: , , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: