Bakat Kaya

“Andai aku punya uang banyak, aku akan beli rumah, mobil, rumah lagi, mobil lagi, dst, dst.”

“Mengapa dia kaya dan aku tidak?”

Kekayaan terkadang membutakan kita

“Andai aku punya lebih banyk harta, aku bisa makan ini, itu, dst, dst.”

Pernahkah anda mengamati orang orang di sekitar anda yang memperlihatkan tingkah laku seperti diatas? atau mungkin mendengar seseorang mencurahkan pikiran yang persis seperti diatas? Atau malah, jangan-jangan anda pernah terbersit pikiran diatas? mungkin sekarang?

Memangnya ada yang salah dengan pikiran seperti itu? Ada masalah dengan orang orang seperti itu? Ada apa sebenarnya dengan pikiran seperti itu? mari kita kupas sedikit mengenai pikiran diatas.

Kekayaan – Uang memang penting namun bukan segalanya

Jika kita melihat seseorang dari materi yang dia punyai, bolehlah kita mengelompokkan mereka dalam kategori orang-orang kaya ataupun miskin. Nyatanya, adakah batas yang jelas dimana orang itu termasuk orang yang kaya? berapakah kekayaan yang harus dimilikinya? adakah batas yang jelas orang-orang untuk dikatakan miskin?

Tidak bukan? Tentu dilihat dari berbagai sudut pandang manusia dikatakan “kaya” itu sangatlah relatif. Lebih lagi, manusia tidak pernah menunjukkan sifat aslinya, melainkan hanya peta kepribadian yang ingin mereka tunjukkan saja. Lantas, bagaimana kita mengkategorikan orang-orang menjadi kelompok miskin maupun kaya?

Tentu yang dapat menilai apakah kita sebenarnya kaya atau tidak adalah orang yang paling dekat dengan kita. Yaitu diri kita sendiri. Sudahkah kita merasa kaya? Atau justru kita merasa kurang (miskin)? Mari kita sejenak merenungkan apakah kita sudah kaya atau belum sobat…

Terkadang, kita tidak tahu batas apakah kita cukup makmur atau tidak

Sedikit banyak hal ini menjawab beberapa pertanyaan seperti; Mengapa ada orang yang sudah mempunyai banyak harta tetap saja terus memperbanyak hartanya tanpa peduli sesamanya? Mengapa ada orang yang tidak ada hentinya memuaskan diri mereka sendiri? Mengapa ada orang yang terlihat kaya raya tetapi tidak menemukan kebahagiaan? Sementara itu ada beberapa (bukan semua) orang miskin tetapi mereka merasa damai dengan hidupnya. Mengapa hal itu bisa terjadi?

Disinilah, sebenarnya “kaya” adalah sebuah bakat. Ya, bakat, yang tidak semua orang mempunyainya. Bahkan, tidak banyak yang menyadari bahwa menjadi orang kaya adalah bakat.

Jadi, bagi orang-orang yang tidak bakat kaya, sebanyak apapun harta yang mereka punyai, mereka tidak akan pernah puas, tidak akan pernah tenteram, damai, dst. Mereka akan terus gelisah untuk terus memperkaya diri mereka, terus menuruti apa yang dia inginkan, bukan apa yang dia butuhkan. Lebih buruk lagi jika orang yang tidak bakat kaya tersebut tidak mempunyai harta, mereka akan terus berusaha memenuhi apa yang dia inginkan, bukan yang dia butuhkan , dengan cara apapun. Baik itu halal (hutang, minta, dst), bahkan bisa saja dengan cara yang tidak halal.

Segala cara pun jadi jika kita sudah “buta”

Sementara itu, orang yang mempunyai bakat kaya, seberapapun harta yang dia punya, dia akan merasa damai. Terlepas dia mempunyai harta ataupun tidak, dia akan damai, tidak tersiksa dengan keinginannya. Jika memiliki harta yang lebih dari yang dia butuhkan, pasti dia akan berbagi dengan sesamanya. Karena memang, beberapa orang termasuk penulis menemukan kenyamanan hati dalam berbagi. Sedikit banyak mereka melakukan hal itu karena mereka sadar, masih banyak manusia di dunia ini yang tidak seberuntung dia, tidak seberbakat kaya seperti dia.

Kebahagiaan tak dapat diukur dalam materi

Karena memang, kuantitas harta tidak menjamin kedamaian seseorang. Bsa saja orang yang sedikit hartanya lebih damai hidupnya ketimbang orang yang banyak harta.

Karena kita dilahirkan tanpa membawa apa-apa dan kita meninggalkan dunia ini tanpa membawa apa-apa juga, mari kawan, kita isi “waktu” hidup kita yang sangat terbatas ini dengan berbagi. Karena harta ini bukan milik kita, melainkan hanya pinjaman.

Nikmatilah hidup apapun keadaannya, karena hidup itu memang nikmat

“Memang, paling mulia itu hidup layaknya tukang parkir. Diberi mobil bagus tidak sombong, mobil tersebut diambil juga tidak bersedih.”

Categories: Kilau Lentera Ide | Tags: , , , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: